Roti dan Kegelisahan

Ada orang yang duduk di meja makan sederhana. Di hadapannya hanya sepotong roti dan segelas air. Tidak ada lauk yang istimewa. Tidak ada kemewahan yang mengundang decak kagum. Namun wajahnya teduh, matanya tenang, dan hatinya lapang. Di tempat lain, seseorang duduk di hadapan hidangan yang berlimpah. Aneka makanan tersaji dengan sempurna. Segala yang diinginkan tersedia. Akan tetapi, pikirannya dipenuhi kecemasan, dadanya sesak oleh kekhawatiran, dan malam-malamnya dipenuhi kegelisahan.



Para hukama Arab merangkum kenyataan itu dalam sebuah ungkapan yang sangat indah:

كَسْرَةٌ مِنْ خُبْزٍ تَأْكُلُهَا فِي هُدُوءٍ، خَيْرٌ مِنْ وَلِيمَةٍ تَأْكُلُهَا وَأَنْتَ قَلِقٌ.
"Sepotong roti yang engkau santap dalam ketenangan lebih baik daripada jamuan mewah yang engkau nikmati dalam kegelisahan."

Kalimat ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan filsafat hidup yang sangat dalam. Ia mengajarkan bahwa nilai sebuah kenikmatan tidak hanya ditentukan oleh apa yang berada di tangan, melainkan oleh apa yang berada di dalam hati. Sebab manusia tidak hidup dengan roti semata, tetapi juga dengan makna, ketenteraman, dan rasa cukup.

Di zaman modern, manusia semakin mahir memperbanyak sarana kehidupan, tetapi sering kali kehilangan kemampuan menikmati kehidupan itu sendiri. Kita hidup di tengah kelimpahan informasi, namun miskin kebijaksanaan. Kita memiliki rumah yang lebih besar, tetapi waktu yang lebih sedikit untuk merasakan kehangatan keluarga. Kita memiliki makanan yang lebih beragam, tetapi nafsu yang tidak pernah merasa kenyang. Kita mempunyai banyak teman di media sosial, tetapi semakin kesepian dalam kenyataan.

Paradoks inilah yang oleh Erich Fromm disebut sebagai pergeseran dari being menuju having. Manusia modern lebih sibuk memiliki daripada menjadi. Ia mengukur kebahagiaan dengan jumlah yang dimiliki, bukan dengan kualitas keberadaan dirinya. Akibatnya, hidup berubah menjadi perlombaan yang tidak pernah mencapai garis akhir. Setiap keberhasilan melahirkan kecemasan baru. Setiap pencapaian menciptakan ketakutan kehilangan. Setiap kemewahan menghadirkan beban untuk mempertahankannya.

Dalam perspektif Al-Qur'an, penyakit ini berakar pada keterikatan hati yang berlebihan kepada dunia. Allah mengingatkan:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ
"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu." (QS. At-Takātsur: 1).

Ayat ini tidak sedang mengutuk harta. Islam tidak pernah memusuhi kekayaan. Nabi Sulaiman adalah seorang raja yang kaya. Utsman bin Affan termasuk saudagar terbesar pada zamannya. Abdurrahman bin Auf dikenal sebagai pebisnis yang sukses. Yang dikritik Al-Qur'an adalah ketika hati menggantungkan ketenteramannya kepada sesuatu yang fana. Sebab apa pun yang bergantung pada sesuatu yang dapat hilang, akan hidup dalam ketakutan kehilangan.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menjelaskan bahwa kegelisahan lahir dari keterikatan yang berlebihan kepada dunia. Hati manusia ibarat cermin. Ketika terlalu dipenuhi bayangan dunia, ia kehilangan kemampuan memantulkan cahaya Tuhan. Akibatnya, manusia mengejar sesuatu yang tidak pernah mampu memuaskannya. Semakin banyak yang diperoleh, semakin banyak pula yang diinginkan.

Karena itu, para sufi tidak mendefinisikan kekayaan sebagai banyaknya harta, tetapi sebagai kebebasan hati dari ketergantungan kepada harta. Mereka menyebutnya al-ghinā anin-nās, kaya karena tidak bergantung kepada selain Allah. Seorang miskin yang ridha bisa lebih kaya daripada seorang miliarder yang terus merasa kurang. Sebaliknya, seseorang yang memiliki segalanya dapat menjadi manusia paling miskin apabila hatinya selalu dilanda ketakutan dan kecemasan.

Ibn 'Atha'illah al-Sakandari dalam Al-Hikam mengingatkan bahwa istirahat hati terletak pada penerimaan terhadap takdir Allah. Ketika manusia memaksakan segala sesuatu harus berjalan sesuai keinginannya, maka ia sedang menyiapkan ruang bagi kegelisahan. Sebab hidup tidak pernah tunduk sepenuhnya kepada rencana manusia. Akan selalu ada peristiwa yang berada di luar kendali. Akan selalu ada kehilangan yang tidak bisa dicegah. Akan selalu ada harapan yang tidak menjadi kenyataan.

Di sinilah letak keagungan tawakal. Tawakal bukan menyerah kepada keadaan, melainkan menyerahkan hasil kepada Allah setelah ikhtiar dilakukan dengan sebaik-baiknya. Tawakal membebaskan manusia dari beban yang tidak sanggup dipikulnya. Ia mengubah kecemasan menjadi kepercayaan dan kegelisahan menjadi ketenteraman.

Menariknya, ilmu pengetahuan modern mulai menemukan apa yang telah lama diajarkan agama. Penelitian psikologi positif menunjukkan bahwa kebahagiaan jangka panjang lebih banyak ditentukan oleh kualitas hubungan, rasa syukur, makna hidup, dan kesehatan mental dibandingkan oleh tingkat pendapatan setelah kebutuhan dasar terpenuhi. Dengan kata lain, hati yang tenang memang memiliki kontribusi yang jauh lebih besar terhadap kebahagiaan daripada sekadar bertambahnya materi.

Namun dunia hari ini bergerak ke arah yang sebaliknya. Kita diajarkan cara memperoleh lebih banyak, tetapi tidak diajarkan cara merasa cukup. Kita belajar meningkatkan pendapatan, tetapi lupa meningkatkan kedamaian batin. Kita berusaha memperbesar rumah, tetapi jarang memperluas hati. Kita memperindah meja makan, tetapi mengabaikan ketenteraman jiwa yang duduk di sekitarnya.

Karena itu, hikmah tentang sepotong roti dan jamuan mewah sesungguhnya bukan berbicara tentang makanan. Ia berbicara tentang orientasi hidup. Roti adalah simbol kesederhanaan yang disertai ketenteraman. Jamuan mewah adalah simbol kemewahan yang kehilangan makna. Yang dipersoalkan bukan sedikit atau banyaknya nikmat, melainkan ada atau tidaknya kedamaian yang menyertai nikmat tersebut.

Bukankah kita sering menyaksikan orang-orang yang hidup sederhana tetapi wajahnya memancarkan kebahagiaan? Sebaliknya, tidak sedikit orang yang bergelimang fasilitas tetapi terus dihantui kecemasan. Mereka takut kehilangan jabatan, takut kehilangan pengaruh, takut kehilangan kekayaan, bahkan takut kehilangan citra yang mereka bangun sendiri. Padahal ketakutan terbesar manusia bukanlah kehilangan harta, melainkan kehilangan ketenangan.

Rumi pernah menulis bahwa manusia mencari mutiara di lautan, padahal lautan itu berada di dalam dirinya sendiri. Begitulah keadaan banyak orang. Mereka mengembara ke mana-mana mencari kebahagiaan, sementara sumber kebahagiaan sejati berada dalam hati yang dekat dengan Allah. Mereka mengejar ketenteraman melalui benda-benda yang fana, padahal ketenteraman hanya lahir dari hubungan yang benar dengan Sang Maha Kekal.

Karena itu, barangkali ukuran keberhasilan hidup perlu kita renungkan kembali. Mungkin keberhasilan bukan sekadar memiliki lebih banyak, melainkan membutuhkan lebih sedikit. Bukan sekadar mencapai puncak, melainkan menemukan kedamaian dalam perjalanan. Bukan sekadar menikmati hidangan yang mewah, melainkan mampu mensyukuri sepotong roti yang Allah karuniakan.

Sebab pada akhirnya, yang membuat hidup terasa nikmat bukanlah apa yang masuk ke dalam mulut, melainkan apa yang memenuhi hati. Dan sering kali, sepotong roti yang dimakan dengan syukur, ridha, dan ketenangan jauh lebih bernilai daripada jamuan terbesar yang diselimuti kegelisahan.

Di tengah dunia yang semakin bising oleh ambisi, mungkin kita perlu kembali belajar kepada hikmah sederhana itu: mencari ketenangan sebelum kemewahan, mencari keberkahan sebelum kelimpahan, dan mencari Allah sebelum mencari segala sesuatu yang lain. Sebab ketika Allah ditemukan, hati akan menemukan rumahnya. Dan ketika hati telah menemukan rumahnya, bahkan sepotong roti pun dapat terasa lebih nikmat daripada pesta terbesar di dunia.

Wallāhu a'lam bish-shawāb. 

WongDemak, 14/7/2026

Posting Komentar

0 Komentar